Sunday, March 17, 2019

Terjemahan The Swimmer (English - Bahasa Indonesia) Part 4

English Version

It would storm. The stand of cumulus cloud – that city – had risen and darkened, and while he sat there he heard the percussiveness of thunder again. The de Haviland trainer was still circling overhead and it seemed to Ned that he could almost hear the pilot laugh with pleasure in the afternoon; but when there was another peal of thunder he took off for home. A train whistle blew and he wondered what time it had gotten to be. Four? Five? He thought of the provincial station at that hour, where a waiter, his tuxedo concealed by a raincoat, a dwarf with some flowers wrapped in newspaper, and a woman who had been crying would be waiting for the local. It was suddenly growing dark; it was that moment when the pinheaded birds seemed to organize their song into some acute and knowledgeable recognition of the storm’s approach. Then there was a fine noise of rushing water from the crown of an oak at his back, as if a spigot there had been turned. Then the noise of fountains came from the crowns of all the tall trees. Why did he love storms, what was the meaning of his excitement when the door sprang open and the rain wind fied rudely up the stairs, why had the simple task of shutting the windows of an old house seemed fitting and urgent, why did the first watery notes of a storm wind have for him the unmistakable sound of good news, cheer, glad tidings? Then there was an explosion, a smell of cordite, and rain lashed the Japanese lanterns that Mrs. Levy had bought in Kyoto the year before last, or was it the year before that?

He stayed in the Levys’ gazebo until the storm had passed. The rain had cooled the air and he shivered. The force of the wind had stripped a maple of its red and yellow leaves and scattered them over the grass and the water. Since it was midsummer the tree must be blighted, and yet he felt a peculiar sadness at this sign of autumn. He braced his shoulders, emptied his glass, and started for the Welchers’ pool. This meant crossing the Lindleys’ riding ring and he was surprised to find it overgrown with grass and all the jumps dismantled. He wondered if the Lindleys had sold their horses or gone away for the summer and put them out to board. He seemed to remember having heard something about the Lindleys and their horses but the memory was unclear. On he went, barefoot through the wet grass, to the Welchers’, where he found their pool was dry. 

This breach in his chain of water disappointed him absurdly, and he felt like some explorer who seeks a tonential headwater and finds a dead stream. He was disappointed and mystified. It was common enough to go away for the summer but no one ever drained his pool. The Welchers had definitely gone away. The pool furniture was folded, stacked, and covered with a tarpaulin. The bathhouse was locked. All the windows of the house were shut, and when he went around to the driveway in front he saw a FOR SALE sign nailed to a tree. When had he last heard from the Welchers – when, that is, had he and Lucinda last regretted an invitation to dine with them? It seemed only a week or so ago. Was his memory failing or had he so disciplined it in the repression of unpleasant facts that he had damaged his sense of the truth? Then in the distance he heard the sound of a tennis game. This cheered him, cleared away all his apprehensions and let him regard the overcast sky and the cold air with indifference. This was the day that Neddy Merrill swam across the county. That was the day! He started off then for his most difficult portage. 

==================================================================================

Bahasa Indonesia Version

Sepertinya akan ada hujan badai. Gumpalan awan kumulus – yang sebesar kota itu – telah berubah kelam, dan Neddy masih duduk di sana hingga dia mendengar suara petir samar-samar. Pesawat latihan de Haviland masih terbang di atas kepala dan sepertinya Ned masih bisa mendengar suara tawa renyah sang pilot siang hari itu; tetapi ketika ada bunyi halilintar kembali dia memutuskan untuk pulang. Klakson kereta api berbunyi dan Ned berpikir sudah jam berapa ini. Jam 4? Atau 5? Dia membayangkan stasiun pada jam itu, dimana seorang pelayan yang tuxedonya telah tertutupi jas hujan, seorang berperawakan kecil dengan bunga yang telah terbungkus di dalam koran, dan seorang wanita yang mungkin masih menangis menunggu seseorang. Tiba-tiba awan semakin berubah kelam; itulah momen ketika burung-burung sepertinya berkicau menyadari akan adanya badai yang akan mendekat. Lalu ada bunyi air mengalir dari puncak pohon ek, seolah olah pasak di sana telah berubah arah. Kemudian bunyi air terjun datang dari semua puncak pohon-pohon yang tinggi. Mengapa dia menyukai hujan badai, apa maksud dari kesenangannya ketika pintu terbuka lebar dan hujan angin dengan kasarnya membasahi tangga, mengapa tugas sepele seperti menutup rapat-rapat jendela sebuah rumah tua terasa begitu tergesa-gesa, mengapa pula nada-nada air hujan yang pertama jatuh dari suatu hujan badai terasa seperti suara dari berita bagus, ceria, dan menyenangkan? Kemudian ada suatu ledakan, suatu bau bahan peledak yang tidak berasap, dan hujan membasahi lentera Jepang yang dibeli oleh Ny. Levy di Kyoto setahun yang lalu, atau setahun lagi sebelumnya?

Neddy berteduh di gazebo keluarga Levy hingga hujan badai reda. Hujan telah mendinginkan udara dan dia gemetar. Kekuatan angin telah merontokkan dedaunan merah dan kuning pohon maple dan berserakan di atas rumput dan genangan air. Karena ini adalah pertengahan musim panas pohon-pohon pasti layu, tetapi dia merasakan sedikit kesedihan yang aneh pada tanda awal musim gugur. Dia meregangkan bahunya, mengosongkan gelasnya, dan bersiap menuju kolam renang keluarga Welcher. Ini artinya menyeberangi putaran Lindley dan dia terkejut ketika mendapati rumput telah tumbuh menutupinya dan semua loncatan telah dicabut. Ned berpikir apakah keluarga Lindley telah menjual kuda-kudanya atau mereka hanya pergi sepanjang musim panas dan membawa beberapa item tersebut. Dia teringat telah mendengar sesuatu tentang keluarga Lindley dan kuda milik mereka tetapi ingatannya masih samar-samar. Terus saja Ned berjalan, dengan telanjang kaki melewati rerumputan basah, menuju rumah keluarga Welcher, dimana dia mendapati kolam renangnya sudah dikuras.

Adanya sedikit gangguan dalam rangkaian petualangannya ini telah membuat Ned kecewa, dan dia merasa seperti beberapa penjelajah yang mencari sumber air potensial dan yang dia temukan hanya jalan buntu. Dia merasa kecewa dan bingung. Memang sewajarnya orang-orang bepergian pada musim panas tetapi tidak ada pula yang sampai menguras habis kolam renangnya. Keluarga Welcher jelas sudah pergi. Furnitur di kolam renang sudah dilipat, ditumpuk, dan ditutupi kain terpal. Pemandiannya dikunci. Semua jendela rumah tertutup rapat dan ketika dia pergi menuju halaman depan, dia melihat tanda papan bertuliskan DIJUAL terpaku pada sebuah pohon. Kapan dia terakhir kali mendengar dari keluarga Welcher- apakah, ketika, dia dan Lucinda menyesalkan undangan makan bersama dengan mereka? Kelihatannya baru seminggu yang lalu atau sebelumnya. Apakah ingatannya sudah mulai berkurang atau apakah dia hanya membuang beberapa kenangan yang kurang menyenangkan yang membuatnya tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya? Lalu dari kejauhan dia mendengar suara orang sedang bermain tenis. Hal ini membuatnya senang kembali, menyingkirkan segala kecemasan dan membuatnya memperhatikan langit di atas dan udara yang dingin dengan tak acuh. Ini adalah hari ketika Neddy Merril berenang melintasi kompleks. Inilah harinya! Dia melanjutkannya kembali dan menemui halangan terberatnya.

1 comment: