Friday, March 15, 2019

Terjemahan Cerita Pendek English - Bahasa Indonesia (Part 2)

The Original Version (English)

His life was not confining and the delight he took in this observation could not be explained by its suggestion of escape. He seemed to see, with a cartographer’s eye, that string of swimming pools, that quasi-subterranean stream that curved across the county. He had made a discovery, a contribution to modern geography; he would name the stream Lucinda after his wife. He was not a practical joker nor was he a fool but he was determinedly original and had a vague and modest idea of himself as a legendary figure. The day was beautiful and it seemed to him that a long swim might enlarge and celebrate its beauty. 

He took off a sweater that was hung over his shoulders and dove in. He had an inexplicable contempt for men who did not hurl themselves into pools. He swam a choppy crawl, breathing either with every stroke or every fourth stroke and counting somewhere well in the back of his mind the one-two one-two of a flutter kick. It was not a serviceable stroke for long distances but the domestication of swimming had saddled the sport with some customs and in his pan of the world a crawl was customary. To be embraced and sustained by the light green water was less a pleasure, it seemed, than the resumption of a natural condition, and he would have liked to swim without trunks, but this was not possible, considering his project. He hoisted himself up on the far curb – he never used the ladder – started across the lawn. When Lucinda asked where he was going he said he was going to swim home. 

The only maps and charts he had to go by were remembered or imaginary but these were clear enough. First there were the Grahams, the Hammers, the Lears, the Howlands, and the Crosscups. He would cross Ditmar Street to the Bunkers and come, after a short portage, to the Levys, the Welchers, and the public pool in Lancaster. Then there were the Hallorans, the Sachses, the Biswangers, Shirley Adams, the Gilmartins, and the Clydes. The day was lovely, and that he lived in a world so generously supplied with water seemed like a clemency, a beneficence. His heart was high and he ran across the grass. Making his way home by an uncommon route gave him the feeling that he was a pilgrim, an explorer, a man with a destiny, and he knew that he would find friends all along the way; friends would line the banks of the Lucinda River.
.......

=========================================================================

The Translated Version (Bahasa Indonesia)


Hidupnya seperti terlihat bebas dan kesenangannya dalam petualangan ini tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Dia seperti melihat, dengan sudut pandang seorang kartografer, bahwa deretan kolam renang dengan arus subterranean semu terlihat melintas sepanjang lingkungan komplek. Neddy telah membuat suatu penemuan, suatu kontribusi pada geografi modern, bahwa dia akan menamai arus tersebut seperti nama istrinya, Lucinda. Neddy bukanlah seseorang yang gampang melontarkan candaan ataupun seorang yang bodoh tetapi dia seperti yakin dan memiliki prinsip bahwa dirinya adalah seperti sesosok legenda. Hari itu terlihat indah dan dalam pikirannya berenang dengan jarak tempuh yang jauh akan terlihat seperti perayaan akan hari yang indah itu.

Neddy melepas jaketnya dan dia lilitkan di atas pundaknya lalu dia pun menceburkan dirinya. Dia seperti memiliki rasa jijik yang tidak bisa dijelaskan kepada para lelaki yang tidak mau menceburkan dirinya ke dalam kolam dengan bersemangat. Neddy berenang dalam ombak yang relatif kecil dengan gaya bebas, mengambil napas dalam setiap gaya atau pada setiap hitungan keempat, dimana dia berhitung dalam angan-angannya satu-dua-satu-dua untuk setiap hentakan. Sebenarnya itu bukan gaya renang yang tepat untuk jarak tempuh yang jauh tapi dalam angannya renang gaya bebas adalah suatu hal yang umum dilakukan. Berenang dalam air yang hijau jernih kelihatannya terasa kurang mengasyikkan, dibandingkan dengan berenang dalam kondisi air yang alami, dan Neddy pun lebih suka berenang tanpa memakai celananya, tetapi hal ini tidak mungkin dilakukan mengingat kondisi proyek petualangan jarak jauhnya. Dia merangkak naik melalui pinggiran kolam yang agak jauh – dia tidak pernah menggunakan tangga kolam – dan mulai bergerak menyeberangi rerumputan. Ketika Lucinda bertanya dia hendak kemana dia pun menjawab bahwa dia akan pulang ke rumah dengan berenang.

Satu-satunya grafik peta yang harus Neddy lalui telah terekam dalam memori dengan baik walau imajiner tetapi rutenya cukup jelas. Pertama-tama dia harus melalui milik keluarga Graham, keluarga Hammer, keluarga Lear, keluarga Howland, dan Crosscup. Dia akan menyeberang Jalan Ditmar menuju keluarga Bunker dan kemudian menuju keluarga Levy, keluarga Welcher, dan kolam renang umum di Lancaster. Lalu masih ada keluarga Halloran, keluarga Sachs, keluarga Biswanger, Shirley Adams, keluarga Gilmartin, dan keluarga Clyde. Hari itu cerah dan Neddy menyadari bahwa dia hidup dalam dunia yang memberikannya berkah air yang berlimpah untuknya. Jantungnya berdetak kencang dan dia pun berlari melintasi rerumputan. Kembali ke rumah melalui rute yang tidak lazim dia lalui membuat Neddy merasa bahwa dia adalah seorang petualang, seorang lelaki dengan garis takdir, dan dia memahami bahwa dia akan mendapatkan teman sepanjang petualangannya ini; teman-teman akan berbaris di sepanjang tepi Sungai Lucinda.

......

No comments:

Post a Comment